Make your own free website on Tripod.com
LINKS
ARCHIVE
« December 2018 »
S M T W T F S
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31
You are not logged in. Log in
Tuesday, 20 June 2006
Family
Mood:  crushed out
Topic: 7. PENGUBAT JIWA
I ran into a stranger as he passed by
“Oh excuse me please” was my reply.
He said, “Please excuse me too;
I wasn’t watching for you.”
We were very polite, this stranger and I.
We went on our way and we said good bye.

But at home a different story is told,
How we treat our loved ones, young and old.
Later that day, cooking the evening meal,
My son stood beside me very still.
When I turned, I nearly knocked him down.

“Move out of the way,” I said with a frown.
He walked away, his little heart broken.

While I lay awake in bed,
God’s still small voice came to me and said,
“While dealing with a stranger,
Common courtesy you use,
But the family you love, you seem to abuse.

Go and look on the kitchen floor,
You’ll find some flowers there by the door.
Those are the flowers he brougth for you.
He stood very quietly not to spoil the surprise,
You never saw the tears that filled his little eyes.”

By this time, I felt very small,
And now my tears began to fall.
I quietly went and knelt by his bed,
“Wake up , little one , wake up,” I said.

“Are these the flower you picked for me?”
He smiled ,”I found ‘em because they’re pretty like you.
I knew you’d like ‘em,especially the blue.”
I said,”Son,I’m very sorry for the way I acted today,
I shouldn’t have yelled at you that way.”

He said,”Oh mom,that’s okay.
I love you anyway.”
I said,”Son I love you too,
And I do like the flower,especially the blue.”

Posted by koleksi05 at 11:04 AM
Post Comment | Permalink
Qudwah sebelum Tarbiyyah
Topic: 6. MANHAJ TARBIYYAH
Sesungguhnya anak-anak akan lebih terkesan dengan apa yang dia lihat dari tingkah laku ayahnya berbanding nasihat dan teguran ayah dalam mendidik. Kita sering mengajar anak kita supaya bertanggungjawab namun kita seringkali juga meringan-ringankan menunaikan janji kita terhadapnya yang selau kita ukir untuk minta pertolongannya atau melepas diri dari 'gangguannya'. Kita mahu anak kita sentiasa mengambil berat pesanan dan nasihat kita tetapi dalam masa yang lain apabila ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada kita, kita mendengarnya sambil membaca surat khabar dan sebagainya.

Berikut ini adalah tulisan Syed Qutb untuk Ayahnya yang menggambarkan kesan tingkahlaku seorang ayah dalam melahirkan anak yang soleh.

Kepada jiwamu, ayahandaku, karya ini ku persembahkan. Ketika aku masih kecil, engkau telah bangkitkan rasa takutku terhadap Hari Qiamat. Memang, engkau tidak pernah memberiku nasihat atau berusaha menakut-nakuti. Tapi aku saksikan sendiri, betapa Hari Akhirat selalu menjadi perhitungan dalam hidupmu. Hari Akhirat adalah buah bibir dan buah hatimu. Engkau sentiasa memandang keras dan sungguh-sungguh terhadap kewajibanmu tapi sebaliknya, engkau begitu bertolak ansur dalam memenuhi hakmu sendiri. itu kerana engkau takut pada Hari Akhirat. Engkau selalu memaafkan perbuatan jahat orang lain padamu, padahal engkau mampu membalasnya agar dapat menjadi tebusan di Akhirat. Kadangkala engkau dermakan pula sesuatu yang menjadi keperluanmu dengan harapan kelak memperolehi kemudahan di hari itu.

Engkau selalu dalam bayanganku, apalagi pada saat-saat kita selesai makan malam, lalu engkau membaca Al fatihah dan mempersembahkannya kepada arwah kedua orang tuamu sementara kami anak-anakmu yang masih kecil bersama-sama mengikuti bacaanmu ayat demi ayat, kerana belum mampu menghafalnya dengan sempurna.

Semoga jiwamu, ayahandaku, karya ini kupersembahkan. Semoga engkau dapat menerimanya dan Allah juga berkenan. Hanya Allah yang memberi petunjuk kepada yang baik dan benar.

Posted by koleksi05 at 10:30 AM
Updated: Tuesday, 20 June 2006 10:55 AM
Post Comment | Permalink
Saturday, 16 July 2005
HAKIKAT CINTA RASUL
Topic: 8. SIRAH
Pendahuluan

Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk mencintai Rasulullah melebihi dari pada cintanya kepada semua makhluk. Buah cinta itu sangatlah agung dan besar yang akan dapat dipetik di dunia dan akhirat, tetapi dalam kenyataannya banyak kita temui kekeliruan dalam memahami cinta kepada Rasulullah dengan pemahaman yang sangat sempit. Maka penjelasan hakikat cinta Rasul secara jelas dan benar merupakan cara terbaik untuk meluruskan kekeliruan sebagian orang muslim dalam membuktikan kecintaannya kepada Rasul.

Siapakah Rasulullah Saw
Rasulullah SAW adalah Rasul pilihan Allah yang diutuskan kepada ummat manusia untuk membimbing mereka kepada hidayah Allah; berbuat yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran serta beriman kepada Allah.
Sebelum kedatangan Rasulullah SAW, manusia berada di ambang kehancuran lantaran kebudayaan yang menyebabkan tertegaknya tamadun ketika itu telah hancur.

“Tamadun adalah umpama suatu pohon rendang yang bayang-bayngnya meliputi seluruh dunia; sekarang ia telah terhoyong hayang, dimakan reput hingga ke akar umbinya. Dan di tengah-tengah kerosakan yang sebegitu meluas lahirlah seorang insan yang bakal menyatukan seluruh alam”
Emotion as the Basic of Civilization; oleh J.H Denison

Ketika kemanusiaan sedang berada dalam kesesakan nafas diambang maut, Allah menjadikan Nabi Muhammad SAW untuk membangkitkannya semula dan mengeluarkannya dari kegelapan kepada cahaya. Firman Allah SWT;

Rasulullah SAW memecah belengu-belengu jahiliyyah dan khurafat dan mengajak manusia kepada pengabdian yang akan membebaskan mereka daripada segala bentuk ikatan lain. Dia mengembalikan kepada mereka kesenangan hidup yang sebenarnya. Firman Allah SWT;

“...yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan kepada mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belengu yang ada pada mereka”

Rasulullah SAW Sebagai Pendidik

Rasulullah SAW didatangkan ketika dunia ini diumpamakan sebuah rumah yang telah dilanda gempa bumi yang dahsyat. Semua yang berada di dalamnya menjadi tunggang langgang, menyebabkan barang-barang berselerakan di sana sini.

Dalam suasana kekusutan ini, manusia lupakan dirinya. Dia sudah hilang harga diri hinggakan dia tidak segan silu lagi bersujud pada pokok, batu dan air-sujud pada segala kejadian alam yang tidak berkuasa. Kebijaksanaan tidak berguna lagi. Fikirannya menjadi terlalu kusut dan aqalnya menjadi terlalu serong hinggakan dia tidak lagi mampu membezakan antara yang baik dan buruk.

Akibatnya kemungkaran dipandang sebagai ma’ruf. Lalu serigala umpamayna ditugaskan menjaga biri-biri, pengkhianat dibenarkan menjadi juru damai. Orang-orang yang besar dan keji hidup aman damai. Kebijaksaaan menipu dianggap sebagai kebijaksaan manakala kebijaksanaan itu sendiri dianggap sebagai kebodohan.Khazanah yang palin berharga iaitu kemanusiaan sendiri telah mengalami kancuran.

Di tengah kepekatan jahiliyyah inilah di utuskan Rasulullah SAW untuk membimbing manusia untuk kembali kepada kemanusiaannya dan menjadi hamba kepada Khaliqnya.

Baginda lalu berdakwah dan mendidik ummat dengan penuh kecintaan dan ketaatan kepada Allah, dengan penuh kasih sayang kepada manusia serta bersabar dan bersifat lemah lembut dengan segala tentangan, siksaan dan halangan.

Selam 13 tahun Baginda di Mekkah, penuh keazaman dan ketabahan hati, ia menjelaskan kepercayaan (keimanan) kepada Allah, Kerasulan dan hari kebangkitan. Baginda membangunkan ummat di atas dasar Aqidah yang benar dan mengembangkan dakwah ke segala penjuru alam. Hinggalah sampai kepada kita hari ini.

Kewajiban Mencintai Nabi Muhammad Saw Diatas Semua Makhluk

Berikut ini ada beberapa hal yang berhubungan dengan kecintaan kita kepada Rasulullah saw.
a. Wajib mencintai Nabi SAW melebihi cintanya kepada diri sendiri.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam ra. bahwa dia berkata:
Kami pernah bersama Nabi SAW sementara beliau menggandeng tangan Umar bin Khatthab ra, maka Umar berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku. Maka Nabi bersabda: Tidak, demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! Hingga kamu lebih mencintai aku dari pada dirimu sendiri. Umar berkata kepadanya: Sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Nabi bersabda:
“Sekarang wahai Umar.”

(H.R Bukhari)
b. Wajib mencintai Nabi melebihi cintanya kepada orang tua dan anak.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah di antara kalian beriman sehingga aku lebih dicintai dari pada orang tua dan anaknya.

(H.R Bukhari)
c. Wajib mencintai Nabi e melebihi cintanya kepada keluarga, harta dan seluruh manusia.

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:Tidaklah seorang hamba beriman sehingga aku lebih dicintai kepadanya dari pada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia.
(H.R Bukhari)

Firman Allah

Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul- Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah 24).

Imam Al Hafidz Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat di atas: Apabila semua perkara dan urusan di atas lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah maka tunggulah datangnya bencana dan adzab dari Allah yang akan menimpa kalian.(Mukhtashar Ibnu katsir-Syekh Nasib Ar Rifa'I)

Buah Cinta Nabi

Bagi yang mencintai Rasulullah e akan mendapatkan hasilnya baik didunia maupun diakhirat,di antaranya adalah ;
1. Cinta kepada Nabi boleh mendatangkan manisnya iman.

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Nabi bersabda:
Tiga perkara, barangsiapa yang berada di dalamnya maka ia akan mendapatkan manisnya iman; bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selainnya , bahwa ia mencintai seseorang dan tidak mencintai kecuali hanya karena Allah, dan ia benci kembali kepada kekafiran seperti kebencian dia bila dilemparkan ke dalam api.
(Muttafaqun alaih)

Arti manisnya iman sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama adalah merasakan lazatnya segala ketaatan dan siap menderita karena agama serta mengutamakan itu dari pada seluruh materi dunia.
(Fathul Bari 1/61)

2. Orang yang mencintai Nabi SAW akan tinggal bersamanya di akhirat.

Telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik ra bahwa ia berkata:
Pernah seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu bertanya: Wahai Rasulullah kapan hari kiamat datang? Beliau bersabda: Apa yang kamu persiapkan untuknya? Ia menjawab: cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya. Beliau bersabda: Engkau akan bersama orang yang kamu cintai. Anas berkata: Kami tidak bergembira setelah masuk Islam lebih daripada mendengar sabda beliau: Sesungguhnya kamu bersama orang yang kamu cintai.
Anas ra.berkata: Saya mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar dengan harapan saya dapat berkumpul bersama mereka walaupun saya tidak beramal seperti mereka.

Tanda-Tanda Orang Yang Mencintai Nabi

Diantara tanda-tanda mencintai Nabi adalah yang dinyatakan Al Qadhi 'Iyadh: Termasuk tanda mencintai Nabi adalah membela sunnahnya dan menegakkan syariatnya serta ingin bertemu dengannya. Maka untuk mewujudkannya ia akan mengerahkan jiwa dan harta kekayaannya.
(Syarkh Sahih Muslim -Nawawi)

Ibnu Hajar berkata: Termasuk tanda cinta kepada Nabi di atas adalah bahwa seandainya disuruh memilih di antara kehilangan dunia atau Rasulullah SAW kalau itu memungkinkan, maka ia lebih memilih kehilangan dunia daripada kehilangan kesempatan untuk melihat beliau, ia merasa lebih berat kehilangan Rasul daripada kehilangan kenikmatan dunia, maka orang yang seperti itu telah mendapat sifat kecintaan di atas dan siapa yang tidak bisa demikian maka tidak berhak mendapat bagian dari buah cinta itu. Yang demikian itu tidak hanya terbatas pada persoalan cinta belaka, bahkan membela sunnah dan menegakkan syariat serta melawan para penentang-penentangnya termasuk amar ma'ruf dan nahi mungkar.
(Fathul Bari)

Posted by koleksi05 at 11:12 PM
Updated: Saturday, 16 July 2005 11:17 PM
Post Comment | Permalink
Wednesday, 13 July 2005
Anda adalah pelawat yang ke..



Posted by koleksi05 at 9:17 AM
Post Comment | Permalink
Tuesday, 12 July 2005
SYU'UR PENDIDIKAN ANAK-ANAK
Topic: 4. TARBIYYAH DI RUMAH
Matlamat umum

Firman Allah s.w.t :-

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.“
( Surah at Tahrim : 6 )

Matlamat Khusus

Menjadikan anak-anak pemimpin yang beriman dan bertaqwa, seperti firman Allah SWT:

1. “Dan orang-orang yang berkata : Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.“
( Surah al Furqaan : 74 )


2. “Dan sesungguhnya aku khuatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Yaakub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diredhai“
(Surah Maryam : 5 – 6)

Tidak semua manusia boleh mencapai matlamat khusus ini. Namun memadailah jika ia dapat mencapai matlamat umum di atas.

Pendidikan keimanan sebagai asas

1. Iman adalah asas pembentukan peribadi dan syakhsiyyah Islamiyyah. Firman Allah s.w.t :-

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar ".
(Surah Al Hujurat : 15)

2. Iman adalah asas pembentukan keluarga. Firman Allah s.w.t :-

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, kerana itu damaikanlah antara kedua saudara kamu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat".
(Surah Al Hujurat: 10)


Sabda Rasulullah SAW:

(Bermaksud): "Sesiapa yang berkahwin bererti dia telah menyempurnakan sebahagian daripada deennya, maka dia hendaklah bertaqwa dengan sebahagian yang masih tinggal".
Riwayat Thabrani)


3. Iman adalah asas pembangunan fizikal dan harta benda. Firman Allah s.w.t :-

"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan(Nya), itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".
(Surah At Taubah : 109)


Iman yang perlu dipupuk adalah iman yang bersifat waqi'i dan munazzim.

Justeru itu, selalulah berkata kepada anak-anak :-

"Berimanlah kepada Allah!",
"Ingatlah kepada Allah!",
"Takutlah kepada Allah!",
"Cintalah kepada Allah!",
"Bertaqwalah kepada Allah!".

Selepas itu hubung dan kaitkan iman anak-anak dengan:

1. Amalan harian, syakhsiyyah, akhlak dan ibadah yang mereka dilakukan.

2. Kesudahan hidup manusia di akhirat nanti. Keadaan syurga dan neraka.

3. Sejarah Islam dan contoh-contoh lalu serta pengiktibarannya.

4. Alam dan ciptaan-ciptaan Allah SWT yang sangat hebat.

(Keempat-empat metod ini adalah metod pendidikan yang popular digunakan oleh Al Qur'an).

Ingatlah bahawa iman anak-anak perlu dipupuk supaya ia subur, segar dan kuat. Pada masa yang sama ia juga perlu dipupuk supaya melahir dan menjanakan natijah yang betul. Melahirkan natijah yang betul dalam syakhsiyyah anak-anak adalah suatu `kemahiran' yang perlu dipupuk sejak kecil sepertimana memupuk anak-anak bercakap dengan bahasa yang betul.

Mengajak dengan lembut, menguatkuasakan yang ma'ruf dan menangkis kemungkaran

Firman Allah SWT:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada ma'ruf dan mencegah daripada mungkar : mereka itulah orang-orang yang beruntung"
(Surah Ali Imran : 104)

Daripada ayat ini dapat difahami akan:

1. Mengajak kebaikan kebaikan

Mengajak anak-anak kepada kebaikan dilakukan dengan bijaksana, hikmah, lembut dan dengan perasaan kasih sayang.

2. Penguatkuasaan yang ma'ruf

'Penguatkuasaan' yang ma'ruf dalam rumahtangga sering disalahertikan sebagai pendidikan menggunakan rotan dengan tangan-tangan yang kasar lagi keras. Tidak dinafikan, penggunaan rotan juga adalah satu wasilah pendidikan terhadap anak-anak tetapi Islam telah menetapkan bahawa ia adalah wasilah yang terakhir setelah menggunakan pelbagai wasilah yang lain. Itu pun mengikut adab-adab tertentu seperti tidak mencederakan anak-anak, digunakan pada bahagian tertentu, dengan kekuatan tertentu dan dengan bilangan tertentu.

Penguatkuasaan yang ma'ruf dalam rumahtangga berlaku apabila kita menjadikan perkara-perkara ma'ruf seperti solah, adab kepada ibu bapa, adab berpakaian, adab makan, adab belajar dan sebagainya sebagai PERATURAN-PERATURAN dalam rumahtangga. Anak-anak dididik agar ia memahami hakikat peraturan- peraturan itu. Mereka diasuh agar menyedarinya, menghormatinya dan mengikutinya. Anak-anak akan merasai nikmat mengikuti peraturan-peraturan Islam itu apabila selalu dihubungkan dengan iman atau taqwa kepada Allah SWT, sepertimana sering dilakukan oleh Al Qur'an dalam mentarbiyyah generasi awal. Sifat sabar, pema'af dan istimrariah adalah penting dalam hal ini untuk mendapatkan natijah yang tabi'i.

Tugas untuk menghormati dam menegakkan perkara-perkara ma'ruf ini adalah tugas semua anggota isi rumah secara kolektif. Sesungguhnya Islam adalah din yang lengkap dengan pelbagai peraturan untuk kehidupan manusia dalam segala aspek. Mematuhi peraturan Islam di dunia luar yang luas bertitik tolak daripada dunia rumahtangga.

Rumahtangga yang lepas-bebas tanpa peraturan adalah umpama sebuah negara yang ada pemimpin, tetapi tidak ada perlembagaan dan undang-undang.

3. Menangkis kemungkaran

Menangkis kemungkaran adalah satu proses yang perlu berlaku secara berterusan lantaran pada hari ini jahiliyyah menyerang anak-anak secara berterusan melalui pelbagai wasilah dan kesempatan. Setiap kali kemungkaran itu masuk, ia perlu ditangkis dengan cara memberi kefahaman, kesedaran dan mengajak anak-anak untuk meninggalkannya.

Oleh itu kemungkaran tidak boleh dibiarkan menular masuk ke dalam rumahtangga melalui t.v., majalah, radio, video, gambar-gambar dan seumpamanya. Juga tidak boleh dibiarkan masuk melalui salah laku ibu bapa atau pendidik sendiri.

"Kamu adalah bapa atau ibu atau pendidik yang telah diberikan hak oleh Allah dalam lingkungan kamu. Maka kamu boleh menggunakan hak itu dalam konteks ini."

Amalan harian ibu bapa (atau pendidik) (Aplikasi Thuruq At Tarbiyyah)

1. Ibu bapa sebagai mithal 'amali

Sabda Rasulullah SAW:

(Bermaksud):"Sesungguhnya kamu sekelian tidak akan sanggup mempengaruhi manusia dengan hartamu, maka dari itu pengaruhilah mereka dengan wajah yang manis dan akhlak yang baik".


2. Mu'alajah Al 'Uyub

Mengikis 'aib. Anak-anak lahir bersama dorongan kepada kebaikan (taqwa) dan kejahatan (fujur). Oleh itu mereka akan sentiasa terdedah kepada perkara-perkara maksiat.

3. Menghubungkan anak-anak dengan mathal a'la

Anak-anak, sejak kecil sentiasa memerlukan watak sebagai contoh untuk mereka ikuti. Hubungkanlah mereka dengan contoh-contoh dalam sejarah Islam seperti para ambiya', para sahabat, mujahid-mujahid Islam dan sebagainya. Sungguh malang, anak-anak pada hari ini telah dihubungkan dengan pelbagai watak yang merosakkan, dalam media massa yang mereka kagumi dan ikuti.

4. Menghubungkan anak-anak dengan matlamat yang waqi'i

Kemampuan anak-anak adalah berbeza antara satu sama lain. Setiap anak perlu dihubungkan dengan matlamat atau cita-cita yang munasabah dengan kemampuan dan potensi yang ada padanya agar dia tidak kecewa dan bersemangat untuk mencapainya.

5. Melibatkan anak-anak dalam perbincangan dan bertukar-tukar fikiran

Berbincang dan bertukar-tukar fikiran akan menyubur serta menajamkan aqal, mera'i kemerdekaan jiwa dan mewujudkan kemesraan serta jambatan hati yang kukuh antara ibu bapa dan anak-anak.

Tidak Boleh Ditangguh Lagi...

Anak-anak membesar dengan cepat dan pantas. Jahiliyyah pula sedang menyerang dari pelbagai sudut. Fitrah anak-anak begitu rakus menyerap segala pengajaran yang berlaku terhadap mereka. Kita sudah kesuntukan masa. Segeralah mentarbiyyah mereka. Seandainya kita tidak mentarbiyyah mereka atau menangguhkannya, maka pihak lain akan mentarbiyyah mereka.

`Buah' yang akan dipetik pada akhirnya adalah samada anak itu akan menjadi kawan atau menjadi lawan.

Saya Tidak Mampu ! (Antara Cita-Cita Dan Hakikat)

Cita-cita adalah matlamat yang ingin kita capai dalam pendidikan anak-anak. Hakikat pula adalah hakikat kemampuan yang ada pada kita.

Kita perlu perhatikan antara cita-cita dan hakikat. Atau, dengan perkataan lain, antara matlamat yang ingin dicapai dan kemampuan yang ada.

Cita-cita kita dalam pendidikan anak-anak ialah kita ingin melahirkan anak-anak yang memiliki syakhsiyyah yang lengkap dalam segenap sudut samada dari segi keimanan, pemikiran, da'wi mahu pun haraki. Manakala kita lihat pula kepada kemampuan yang ada, maka terdapat jurang yang jauh. Jurang inilah yang memberi peluang kerja dan jihad, agar kita sampai kepada cita-cita tersebut.

Di dalam keadaan kita yang serba kekurangan, maka setiap keinsafan dan keikhlasan untuk berkerja dan menyumbang bagi melahirkan anak-anak yang soleh adalah sangat kita kehendaki, hargai dan kita harapkan diberkati Allah SWT.

Sekurang-kurang kemampuan yang ada pada kita, InsyaAllah kita masih mampu untuk membaca Al Qur'an dan Hadith serta makna-maknanya di hadapan anak-anak. Perlakukanlah ia sekerap mungkin dalam suasana kasih sayang, tanpa rasa jemu atau dengan melawan rasa jemu. InsyaAllah selepas itu kita akan merasai semakin mampu untuk memperkatakan Islam dan mendidik anak-anak dengan Islam.

Kesilapan Yang Dicairkan Oleh Iman Dan Taqwa

Anak-anak dibesarkan oleh tangan-tangan ibu bapa dan para pendidiknya. Tangan manusia adalah tangan yang tidak bebas daripada kesilapan. Mungkin di hari-hari yang lalu kita telah banyak melakukan kesilapan. Mungkin di hari-hari yang lalu kita telah mencederakan jiwa dan pemikiran anak-anak. Maka ubatikanlah kembali dengan iman dan taqwa. InsyaAllah iman dan taqwa akan dapat mencairkan kembali kesilapan yang lalu. Iman dan taqwa dapat menampung kembali kekurangan-kekurangan yang lalu.

Para sahabat awal Rasulullah SAW menerima tarbiyyah Rasulullah setelah umur mereka meningkat dewasa. Mereka telah melalui zaman kanak-kanak yang penuh dengan jahiliyyah. Keunggulan iman dan taqwa telah mengubati sejarah mereka yang hitam.

Hayatilah Firman Allah s.w.t :-

"Hai orang-orang yang beriman, kiranya kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan mu dan mengampuni (dosa-dosamu). Dan Allah mempunyai kurnia yang besar“
(Surah al Anfaal : 29)

InsyaAllah kita masih lagi belum terlewat.

Ingatlah!

"Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabmu dan takutlah suatu hari yang mana seorang bapa tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat menolong bapanya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam mentaati Allah".
(Surah Luqman : 33)

Posted by koleksi05 at 8:20 PM
Updated: Tuesday, 12 July 2005 8:24 PM
Post Comment | Permalink
Saturday, 9 July 2005
USAHA-USAHA RASULULLAH S.A.W. MENYAMPAIKAN KEBENARAN
Topic: 8. SIRAH
Di peringkat awal usaha-usaha Rasulullah S.A.W. menyampaikan kebenaran, baginda telah melakukan atau melalui jalan-jalan yang selamat (Tariq as-Salim). Iaitu baginda tidak melakukan secara kekerasan untuk untuk menyampaikan ad-Din dengan sepenuhnya kepada masyarakat ketika itu, ketika di Makkah. Walaupun begitu terdapat masyarakat kuffar telah menggunakan berbagai jalan untuk mematahkan perjuangan Rasulullah S.A.W. itu. Mereka melakukan apa sahaja yang terlintas pada ingatan mereka.

Dalam keadaan penentangan yang begitu hebat, Rasulullah S.A.W. tetap tidak tunduk kepada mereka, tetapi Rasulullah S.A.W. tetap meneruskan usaha dalam menyampaikan kebenaran. Dalam usaha-usaha ini Rasulullah S.A.W. terus berhubungan dengan individu, baginda berhubungan dengan qabilah-qabilah mengenalkan diri kepada mereka. Rasulullah S.A.W. pergi kepada orang ramai yang sedang berkumpul untuk menyampaikan kebenaran. Rasulullah S.A.W. utuskan utusan-utusan dan menjemput wakil-walkil, yang kemudiannya wakil-wakil tersebut pulang sebagai mubaligh-mubaligh, kemudian Rasulullah S.A.W. hantar surat-surat kepada raja-raja, ketua-ketua pemerintah untuk mengajak mereka kepada Allah S.W.T..

Seterusnya Rasulullah S.A.W. taklifkan (mewajibkan kepada sahabat-sahabat supaya belajar tentang Islam dan faham betul akan apa yang dipelajarinya itu dan disuruh mengajar pula. Rasulullah S.A.W. memerintah kepada tentera-tentera agar jangan memerangi orang-orang kafir sebelum diajak kepada kebenaran. Setelah diajak tetapi mereka menolak lalu dikenakan jizyah. Tetapi setelah diajak kemudian mereka menolak dan menentang maka barulah berhak mereka tu diperangi.

Di dalam peperangan tersebut ada batas-batasnya. Kanak-kanak dan orang-orang tua dilarang membunuhnya. Wanita-wanita yang mengangkat senjata juga tidak boleh dibunuh. Begitu juga pokok-pokok dan tanaman-tanaman tidak boleh ditebang dan dimusnahkan. Kemudian setelah faham dan dapat mematuhi kewajipan tersebut barulah orang Islam boleh memikul tanggungjawab untuk mentadbir alam ini. Tiada seorang dapat dikecualikan, semuanya terkena. Dalam hal ini tiada hujah lagi untuk mereka mengatakan bahawa: "Kami tidak tahu tentang Islam tidak menerima seruan Islam" dan sebagainya.

Di samping itu pihak-pihak musuh tidak putus-putus menyekat da'wah Rasulullah S.A.W. dengan berbagai cara kekerasan. Tetapi Rasulullah S.A.W. tetap meneruskan dengan berbagai cara untuk menyampaikan kebenaran tersebut. Setelah kekerasan tidak berjaya mereka mengubah drngan cara yang lain pula. Mereka cuba pula dengan memujuk baginda di mana mereka (masyarakat kuffar) mengutus 'Utbah bin Rabi' datang kepada Rasulullah S.A.W. untuk membuat tawaran kepada baginda sekiranya baginda mahukan kekayaan mereka akan berikan kekayaan, sekiranya baginda mahukan pangkat mereka akan letakkan Rasulullah S.A.W. sebagai ketua asalkan jangan membuat seruan kepada Islam. Seterusnya jika Rasulullah S.A.W. mahukan isteri mereka akan carikan seorang wanita yang cantik.

Rasulullah S.A.W. tetap menolak dan meneruskan da'wah baginda. Kemudian masyarakat kuffar menggunakan pendekatan melalui penyiksaan keluarga sehingga ramai anak-anak dan isteri-isteri para sahabat yang disiksa. Namun tetap bersabar dan meneruskan da'wah mereka. Kemudian mereka mencari jalan lain pula. Mereka cuba menyekat usaha-usaha Rasulullah S.A.W. dengan usaha atau dengan cara mnegjek, mencaci memfitnah, menuduh gila, sihir dan sebagainya. Tetapi baginda tetap meneruskan usaha-usaha kebenaran baginda.

Seterusnya mereka menggunakan jalan menyekat jalan-jalan perdagangan kepada saudagar-saudagar agar jangan sampai kepada Rasulullah S.A.W. dan sahabat-sahabat. Keadaan ini berlaku selama tiga tahun kepada Bani Hasyim, sehingga ada cerita di mana pada suatu hari terdapat seorang sahabat, ia pergi membuang air kecil, bila sampai kepada suatu tempat ia ternampak suatu benda keras iaitu kulit unta atau kaldai yang kering, lalu diambilnya dan dibawa pulang, kemudian direndam dan diminum airnya selama tiga hari. Begitulah penderitaan yang dialami oleh Rasulullah S.A.W. dan para sahabat baginda r.a. ketika penyekatan barangan dagangan kepada Bani Hasyim. Usaha itu tidak juga berkesan terhadap usaha Rasulullah S.A.W. untuk menyampaikan kebenaran.

Akhirnya mereka membuat keputusan untuk memburu Rasulullah S.A.W. dan membunuh baginda. Dalam keadaan yang seperti ini tidak ramai yang ingin ikut Rasulullah S.A.W. tetapi yang menentangnya adalah lebih ramai. Rasulullah S.A.W. terus bersabar dan menahan penderitaan dan penyiksaan hinggalah diperintahkan oleh Allah S.W.T. agar keluar dai Kota Makkah berhijrah menuju Madinah.


Cara Rasulullah S.A.W. Menahan Penderitaan dan Penyekatan Kuffar.


Banyak hadith-hadith yang menceritakan cara mereka menerima seruan da'wah Rasulullah S.A.W.. Rasulullah S.A.W. telah menerima tentangan-tentangan hebat dan berbagai cara. Tetapi baginda menghadapinya dengan sabar dan tetap meneruskan seruannya.

Setelah mereka ketahui bahawa penentang dengan cara kekerasan tidak dapat mematahkan usaha-usaha Rasulullah S.A.W., mereka bertidak secara lembut pula. Dimana mereka kan memberikan kepada Rasulullah S.A.W. kekayaan, pangkat, wanita dan sebagainya. Jiak Rasulullah S.A.W. mengidap penyakit dan susah hendak sembuh maka mereka akan berusaha mengubati untuk menyembuhkannya. Tetapi Rasulullah S.A.W. tetap menolaknya dengan mnegtakan bahawa: "Aku bukan begitu. Aku datang bukan untuk meminta harta dan pangkat dari kaju atau datang meminta kuasa dari kamu. Tetapi aku adalah diutuskan oleh Allah S.W.T. untuk membawa berita gembira dan peringatan . Aku menyampaikan risalah yang diamanahkan kepadaku. Jika kamu menrimanya itu adalah habuan kamu di dunia dan di akhirat. Jika kamu menolak, aku bersabar dan teruskan perjuangan, hingga ditentukan bagaimana keputusan-keputusannya.

Kemudian mereka berkata: "Wahai Muhammad jika kamu tidak mahu menerima apa yang dibentang ini, di mana kamu ketahui di negeri yang serba kekurangan ini serta sempit dan begitu sedikit air sekarang engkau cuba agar dihamburkan segala kesenangan dan cuba engkau hidupkan semua nenek moyang yang telah mati. Kemudian kami akan tanyakan kepada mereka tentang apa yang engkau bawa. Jika mereka kata bahawa yang engkau bawa itu benar maka kami akan ikuti. Tetapi Rasulullah S.A.W. tetap juga menjawab seperti yang pertama tadi: "Aku tidak akan berbuat demikian, bukan semacam ini aku diutuskan keoada kamu untuk membawa berita gembira dan peringatan, jika kamu terima itu adalah habuan kamu di dunia dan di akhirat. Jika kamu tidak terima aku tetap bersabar dan teruskan perjuangannya sehinggalah ditentukan bagaimana keputusannya.

Jelasnya, apa yang mereka tanya, Rasulullah S.A.W. tetap dengan pendiriannya. Rasulullah S.A.W. tetap bersabar dan tidak bertindak liar dan kasar terhadap mereka. Mereka terus berkata lagi kepada Rasulullah S.A.W.: "Demi kami tidak akan membiarkan kamu, demi untuk menjaga agama dan adat nenek moyang kami, samada kami membinasakan kamu atau kamu membinasakan kami." Setelah mendengar kata-kata yang begitu maka Rasulullah S.A.W. pun bangun untuk pergi dari situ. kemudian diikuti oleh Umayyah Bin Abdullah dengan tujuan untuk memujuk Rasulullah S.A.W. katanya: "Mereka bercakap baik dengan kamu, kamu layanlah kereka." Tetapi Rasulullah S.A.W. tetap menjawab: "Tidak, tidak!. Aku bukanlah begitu, apa yang aku bawa ini adalah berita gembira dan peringatan. Jika mereka terima itu adalah habuan mereka di dunia dan dia akhirat. Jika mereka tidak terima aku tetap bersabar dengan perintah."

Setelah tidak berjaya Rasulullah S.A.W. pun cuba mengarahkan perjalanan ke Thaif, iaitu setelah Khadijah dan Abi Talib wafat. Sebenarnya kedatangan Rasulullah S.A.W. ke Thaif adalah perancangan 'Utbah bin Rabi'ah. 'Utbah telah menunggu Rasulullah S.A.W. di Thaif dengan mengumpul kanak-kanak bodoh dan membuat dua barisan agar apabila Rasulullah S.A.W. lalu dekat situ disuruhnya melemparkan batu kepada kaki baginda hingga berdarah kaki Rasulullah S.A.W. tersebut

Posted by koleksi05 at 9:38 AM
Post Comment | Permalink
MENGAMBIL DIDIKAN DARIPADA SUNNAH DAN SIRAH
Topic: 8. SIRAH
Kita tidak bermaksud untuk menceritakan sejarah Rasulullah s.a.w sejak hari lahir baginda hingga kewafatan baginda. Cuma kita hendak mengetahui bagaimana caranya kita hendak mengambil didikan dari perjalanan hidup Rasulullah s.a.w bersama Madrasah baginda.

Persoalan yang besar yang kita hadapi ialah persoalan amali (praktik) nya segala ajaran yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w di dalam seluruh bidang kehidupan kita.

Fikrah Islam atau ajaran Islam telah terdapat di dalam al Quran al Karim dan as Sunnah an Nabawiyyah serta sirah Rasulullah s.a.w. Ajaran tersebut tidak membawa ertinya sekiranya tidak dijelmakan dalam amalan seseorang, prinsip-prinsip sahaja tidak hidup melainkan diterapkan di dalam amalan hidup ini. Kerana itu kita dapati dalam sirah Rasulullah s.a.w, baginda meletakkan haluan utama baginda dalam membentuk rijal (para pendokong) Islam dan tidak semata-mata berkhutbah . Baginda mendidik Jamaah Sahabah. Baginda membina ummah bukan membangunkan falsafah. Baginda berjaya dalam mendidik, sehingga Generasi Sahabat itu lahir dalam bentuk amali (praktik) hidup. Generasi yang telah terdidik itulah yang dikeluarkan ke tengah masyarakat manusia yang menghuraikan dengan amalan (perbuatan) mereka Islam yang sebenarnya.

Islam tidak hanya mengemukakan teori semata-mata dalam membentuk keperibadian Muslim tetapi ia membawa mereka ke jalan yang praktik (amali). Rasulullah s.a.w tidak semata-mata mendidik atau mengasuh para sahabat baginda di rumah Arqam bin Abi Al Arqam, tetapi baginda membawa jamaah sahabat itu keluar bersama-sama baginda mencabar segala fikiran dan kepercayaan masyarakat ketika itu. Akhirnya mereka menghadapi tentangan hebat ari masyarakat yang mengamalkan cara hidup Jahiliyyah.

Tujuan utama, yang pertama dan terakhir mereka ialah untuk memberitahu masyarakat umum bahawa pengabdian diri hanya kepada Allah s.w.t semata-mata, tunduk dan patuh kepada kekuasaan dan pemerintahan Nya sahaja. Dunia ini menjadi kerdil pada pandangan mereka. Mereka tidak terpedaya dengan keindahan dan kemewahan dunia. Hinggakan pihak musuh menganggap bahawa mereka adalah satu kaum yang lebih cintakan mati daripada hidup dan lebih suka kepada sifat merendah diri daripada angkuh dan sombong. Mereka tidak tamak kepada kemewahan duniawi.

Sebagai contohnya, telah disebut di dalam sirah bahawa Mus’ab bin ‘Umair adalah anak tunggal kepada ibunya yang mempunyai kekayaan dan kedudukan tinggi. Setiap anak gadis berangan-angan hendak menjadi isteri atau sebagai teman hidup beliau. Setelah Mus’ab memeluk Islam, ibunya telah mengugut untuk mengharamkan beliau dari mengambil harta kekayaannya, tetapi ugutan itu tidak dihiraukan. Kemudian ibunya bersumpah untuk tidak menjamah segala makanan selagi Mus’ab tidak meninggalkan ajaran Islam yang telah menjadi anutannya. Namun keImanan dan keazaman Mus’ab kian bertambah kuat seraya berkata kepada ibunya : “ Demi Allah Wahai ibuku, sekiranya ibu mempunyai seratus nyawa yang keluar daripada ibu satu demi satu, aku tetap tidak akan meninggalkan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w.“

Sirah Hijrah Rasulullah s.a.w ke Madinah al Munawwarah adalah satu lagi siri dari siri pembentukan perwatakan dan keperibadian Muslim secara praktik dalam kehidupan Ummah Islamiyyah. Mereka terpaksa meninggalkan harta benda dan kampung halaman mereka. Kalau difikirkan sepintas lalu sahaja atau dipandang pada zahir semata-mata, bererti akan tergendala segala kerja, rugilah perniagaan dan terpisahlah dari sanak saudara serta keluarga. Namun demikian orang-orang Islam yang menyahut seruan Hijrah itu telah sanggup mengorbankan segala kepentingan dan harta benda yang disayangi demi mengikut Rasulullah s.a.w dan demi menunaikan perintah Allah s.w.t.

Diriwayatkan di dalam sirah bahawa Suhaib ar Rumi ketika di dalam perjalanan ke Madinah, telah disekat oleh beberapa orang kafir Quraisy. Mereka berkata kepadanya : Sesungguhnya engkau dahulu telah datang kepada kami (ke Makkah) selaku seorang yang miskin. Kemudian harta kamu bertambah di tempat kami ini sehingga engkau menjadi kaya raya kini. Kemudian engkau hendak membawa bersama-sama hartamu pergi dari sini. Demi sesungguhnya ini tidak boleh. Maka ditanya oleh Suhaib : Apa kata jika aku pulangkan harta bendaku ini kepada kamu semua, Adakah kamu membenarkan aku pergi ?. Jawab mereka : Ya. Maka kata Suhaib : Sekarang ambillah harta bendaku ini untuk kamu. Apabila berita peristiwa ini telah sampai ke pengetahuan Rasulullah s.a.w, maka baginda bersabda yang bermaksud : Telah beruntunglah Suhaib, telah beruntunglah Suhaib.

Peristiwa-peristiwa tersebut adalah menggambarkan kepada kita satu Tarbiyyah ‘Amaliyyah (didikan yang praktis) yang lahir daripada didikan di Madrasah Rasulullah s.a.w.

Bagi melahirkan natijah-natijah amali Islam tersebut maka perlu kepada satu keyakinan (keImanan) yang mendalam terhadap Rasulullah s.a.w dan apa yang dibawa oleh baginda (disamping keImanan kepada Allah s.w.t). Ucapan dua kalimah syahadah itu tidak semata-mata pengakuan dibibir sahaja. Bahkan mesti lahir daripada hati yang yakin dan sedar. Sebenarnya ucapan dua kalimah syahadah itu adalah Bai’ah (janji setia kita bahawa) Tiada Ilah yang disembah melainkan Allah s.w.t dan Nabi Muhammad s.a.w itu adalah pesuruh Allah s.w.t.

Perlu ada keyakinan bahawa Allah s.w.t adalah Pencipta alam, Penggubal undang-undang, peraturan-peraturan, syar’iat. SistemNya sahaja yang perlu dipatuhi dan kepadaNya sahaja perlu diperhambakan. Perlu meyakini bahawa Nabi Muhammad s.a.w itu adalah diutuskan oleh Allah s.w.t bagi melaksanakan perintah-perintah Nya, memimpin seluruh manusia ini menurut arahan-arahan Allah s.w.t. Perjalanan hidup Rasulullah s.a.w itu menjadi contoh yang baik serta model utama bagi seluruh alam ini, pimpinan dan sistem yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w itu bukan rekaan menurut hawa nafsu tetapi mendapat pertunjuk Allah s.w.t. Firman Allah s.w.t :-

“ dan tiadalah yang diucapkan itu (al Quran) menurut kemahuan hawa nafsunya. Ucapan itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) “
(Surah an Najm : 3-4)

Banyak ayat-ayat al Quran al Karim yang memerintahkan kita dan para Mu’minin agar mematuhi dan mentaati Rasulullah s.a.w , sebagai natijah daripada ikrar ketaatan kita kepada baginda. Antara firman-firman Allah s.w.t :-

“ Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “
(Surah ali ‘Imran : 31)

“ Barangsiapa yuang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak m engutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. “
(Surah an Nisaa’ : 80)

“Apa sahaja harta rampasan (fa-I) yang diberikan Allah kepada Rasul Nya yang berasas dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya sahaja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman Nya.“
(Surah al Hasyr : 7)

Setiap Mu’min diwajibkan mencintai Rasulullah s.a.w sehingga baginda pernah bersabda ;-
Bermaksud : “Tidak sempurna Iman seseorang kamu sehingga ia menjadikan aku lebih dicintai dari dirinya, anaknya, hartanya dan manusia seluruhnya“
Menurut hadith ini ternyata bahawa cinta yang sebenarnya terletak kepada keikhlasan mematuhi apa yang disukai oleh Rasulullah s.a.w dan mematuhi apa yang tidak disukai oleh baginda.

Begitu juga kita, orang Mu’min , diwajibkan menghormati Rasulullah s.a.w seperti yang diisyaratkan olah Allah s.w.t di dalam al Quran al Karim :

“ Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang beransur-ansur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih. “
(Surah an Nuur : 63)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyedari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah , mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.“
(Surah al Hujuraat : 1-3)

Menghormati Rasulullah s.a.w bukan sahaja semasa ada hayat baginda, bahkan selepas wafat baginda juga kita mesti bersopan dengan Rasulullah s.a.w. Kerana itu dikala mana kita membaca atau mendengar hadith-hadith Rasulullah s.a.w, kita wajib meyakini hadith atau sunnah tersebut. Kita dikehendaki mendengar dengan cara bersungguh-sungguh, penuh perhatian, penuh kefahaman serta bersedia untuk mengamalkan dan melaksanakannya sepertimana arahan-arahan yang telah disampaikan oleh Rasulullah s.a.w sendiri.

Hendaklah kita menyedari bahawa al Quran al Karim dan as Sunnah Rasulullah s.a.w itu mempunyai peranan untuk mengawal, menjaga, memelihara fitrah, kesucian manusia ciptaan Allah s.w.t. Oleh itu kita wajib membimbing dan mendidik fitrah kita supaya tetap dalam keadaan suci dan bersih (Fitrah Salimah). Caranya ialah dididik dan disirami dengan ajaran al Quran al Karim dan dibajai dengan as Sunnah an Nabawiyyah Rasulullah s.a.w. Firman Allah s.w.t :-

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“
(Surah al Ahzab : 21)

Posted by koleksi05 at 9:07 AM
Post Comment | Permalink
RUMAHTANGGA DA?WAH DAN PEMBINAAN GENERASI PEWARIS
Topic: 1. KONSEP RUMAHTANGGA
Pendahuluan.

Adalah satu hakikat yang telah kita sama sama fahami bahawa kita hidup di dalam suasana yang berlakunya pertembungan antara Islam dan jahiliyah. Pertembungan ini berlaku di setiap peringkat sama ada dari peringkat individu hinggalah keperingkat masyarakat dan negara. Setiap muslim yang merasai hakikat ini hendaklah menyedari bahawa dirinya perlu membuat persiapan yang rapi. Kegagalan di dalam pertarungan ini akan menjejaskan akhiratnya, dan juga keluarganya. Oleh yang demikian kita di tuntut untuk memahami amal Islami dan melaksanakannya dan juga menyediakan anggota anggota keluarga untuk sama sama mendukung tanggungjawab dakwah dan jihad ini.

Salah satu aspek dalam persiapan jihad ini ialah menyediakan rumahtangga dakwah. Asy Syahid Imam Hassan Al Banna telah meletakkan pembentukan rumahtangga muslim sebagai fasa ke dua dalam amal Islami. Kertas kerja ini cuba membincangkan persoalan rumahtangga dawah dan kedudukannya dalam pembentukan generasi anak anak kita yang mampu mewarisi dakwah Islam.

Apa Kata Islam Mengenai Pembinaan Rumahtangga.

Sebelum kita meneruskan perbincangan mengenai tajuk ini marilah kita memahami pengertian rumahtangga atau keluarga muslim. Apa yang dimaksudkan dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan segala aktivitinya pada pembentukkan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam. Berdasarkan Al quran dan as Sunnah terdapat beberapa tujuan terpenting pembentukkan rumahtangga muslim ini iaitu :

a) Mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumahtangga.

b) Mewujudkan ketenteraman dan ketenangan jiwa dan ruh.

Allah berfirman:

"dan di antara tanda tanda kekuasannya ialah dia menciptakan untukmu isteri isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.dan dijadikan Nya di antaramu rasa mawaddah dan rahmah.Sesungguhnya pada yang demikian benar benar terdapat tanda tanda bagi kaum yang berfikir.?
(Surah ar-Rum :21)

Al-Qurtubi telah mencatatkan komentar ibn Abbas RA mengenai mawaddah,yang dijelaskan bererti ?cinta kasih seorang lelaki kepada isterinya? dan rahmah pula bermaksud? rahmahnya jangan sampai menderita atau mengalami kesusahan?. Dan di sini dapatlah kita simpulkan bahawa pembentukkan rumahtangga muslim itu di asakan di atas mawaddah dan Rahmah. Suasana rumahtangga yang di bina di atas dasar cinta dan kasih sayang yang suci akan mententeramkan jiwa dan ruh dalam kehidupan daie. Dalam hal ini tiada contoh yang paling tepat selain rumahtangga Rasullullah SAW yang di bina bersama sama dengan Sayidatina Khadijah RA terutama sekali pada ketika menghadai cabaran cabaran dan pengalaman pengalaman baru yang memerlukan sokongan padu serta keyakinan yang tidak ada sebarang keraguan daripada si isteri.

Anak-anak yang dibentuk di dalam suasana mawaddah dan rahmah ini akan menghasilkan peribadi yang bahagia ,yakin diri ,tenteram kasih sayang serta jauh dari kekacauan serta penyakit batin yang melemahkan peribadi.

c) Mewujudkan Sunnah Rasullullah SAW dengan melahirkan anak-anak soleh sehinggakan ummat manusia merasa bangga akan kehadiran kita.


d) Memenuhi keperluan cinta kasih anak-anak ketidak seimbangan atau ketandusan cinta kasih ini menyebabkan penyimpang akhlaq dan perilaku.

Di dalam persoalan perkahwinan dan seterusnya pembentukkan rumahtangga muslim ini Islam tidak menyempitkan perkahwinan itu hanya untk mendapatkan anak-anak yang soleh ,walaupun ini adalah satu tujuan utama, atau untuk mengekang pandangan dan menjaga kemaluan, walaupun ini juga matlamat perkahwinan dan bukan juga bertujuan untuk menyalurkan nafsu secara syarie, tetapi Islam telah menentukan matlamat yang lebih tinggi, lebih mulia dan lebih jauh jangkauannya. Ianya berkait rapat dengan matlamat kemasyarakatan ,jihad serta perlaksanaan amal Islam yang luas.

Walaupun antara matlamat terpenting dalam pembentukan rumahtangga dakwah ini adalah untuk menyediakan suasana dan persekitaran subur untuk mendidik anak- anak tetapi Islam telah menentukan bahawa perjanjian zuriat itu yang utamanya adalah bermatlamatkan dakwah dan jihad.

?Dan sesungguhnya aku khuatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Yaakub dan jadikanlah ia Ya Tuhanku, seorang yang diredhai ?
( Surah Maryam : 5 ? 6 )

Kedua-dua ayat di atas meraqamkan hajat dari do?a Nabi Zakaria AS yang berhajat kepada anak untuk mewarisi dan meneruskan kewajipan dakwah yang dipikulnya.

Peristiwa yang dirakamkan di dalam Al Quran ini menunjukkan bahawa seorang daie itu berhajatkan anak seperti manusia lain juga tetapi hajat ini lebih mulia kerana ia berhajat supaya anaknya mewarisi dakwah dan jihadnya. Aspek ini adalah penting kerana perjalanan dakwah dan pertarungan dengan memerlukan masa yang panjang dan dengan adanya pewaris yang akan meneruskan perjuangan dapatlah di pastikan ,Insya Allah bahawa perjuangan ini tidak akan mati di pertengahan jalan.

Tawazun Dalam Rumahtangga.

Berumahtangga juga bagi seorng daie adalah bertujuan untuk melaksanakan ubudiyah dan bukan untuk menghalangnya. Adalah disedari bahawa terdapat banyak ujian dan fitnah yang terdapat dalam rumahtanggga. Salah satu daripada ciri penting rumahtangga dakwah adalah keseimbangan atau tawazun. Keseimbangan ini adalah :

a)Di antara kecintaan kepada isteri dan anak-anak dengan kecintaan kepada Allah dakwah dan jihad.

b)Diantara kecintaan kepada keselesaan hidup bersama keluarga dengan kesungguhan berdakwah di tengah tengah masyarakatyang sangat mencabar.

c)Diantara kecenderungan untuk memberikan kesenangan hidup keluarga dengan harta benda dengan tuntutan berbelanja ke jalan Allah SWT.

Para du'at perlu melalui dengan bersungguh-sungguh untuk menatijahkan keseimbangan ini kerana ramai para duat yang gugur di perjalanan dakwah kerana kegagalan mereka melahirkan keseimbangan ini dan kegagalan mereka mendidik isteri dan anak-anak untuk menerima serta melaksanakan keseimbangan ini.

Rumahtangga dakwah adalah yang terlaksana tarbiyah kepada anggotanya.

Salah satu ciri terpenting dalam rumahtangga daie yang membezakannya terus dari yang selainnya adalah terlaksananya tarbiyah Islam yang sebenarnya di dalam rumahtangga tersebut. Adalah menjadi suatu yang dituntut agar para duat memberikan sepenuh perhatian yang serius dalan hal ini. Anggota keluarga yang tidak mendapat tarbiyah yang sebaiknya atau lebih parah lagi yang terabai terus tarbiyah mereka bukan sahaja tidak akan mempu untuk menyambung perjuangan Islam tetapi mungkin akan mencacatkan dan menjadi penghalang perjalanannya.

Pentarbiyahan anggota keluarga di mulakan dengan pentarbiyahan isteri ,yang telah terlebih dahulu di pilih di atas dasar keimanan dan keIslamannya. Pentarbiyahan isteri ini sangat penting kerana pentarbiyahan anak seterusnya akan dilaksanakan bersama dan pada dasarnya para isterilah yang akan memainkan peranan yang paling besar.

Selain daripada memikirkan kurikulum yang berkesan untuk mentarbiyah anak yang merangkumi bahan bahan dan metodologi yang sesuai, satu aspek lagi yang sangat penting adalah syakhsiyah Islamiyah dan perlakuan ibubapa. Pakar pakar pendidikan barat juga menyedari hakikat qudwah dan menyebutkannya sebagai?the hidden curriculum?atau kurikulum yang tersembunyi. Pembinaan Syakhsiah yang dibina di atas dasar keimanan yang teguh sahaja dapat membuahkan syakhsiyah contoh yang menjadi kurikulum praktikal bagi pertumbuhan jiwa dan perlakuan anak.

Posted by koleksi05 at 8:47 AM
Updated: Saturday, 9 July 2005 8:54 AM
Post Comment | Permalink
Friday, 8 July 2005

Topic: 9. SUMBANGSARAN
Laman web ini diwujudkan sebagai ruang untuk menyampaikan risalah Islam disamping untuk berkongsi bahan dan pengalaman.

semoga sedikit sebanyak bahan-bahan di ruangan ini dapat memberi sumbangan kepada pembentukan rumahtangga dakwah yang akan melahirkan rijal-rijal dakwah.

Bagi yang berminat untuk menyumbang bahan-bahan dan pengalaman boleh E-mailkan kepada rehlah0@yahoo.co.uk

Semoga usaha-usaha kita mendapat ganjaran yang baik dari Allah SWT

Abu Umar
2005

Posted by koleksi05 at 8:45 PM
Updated: Tuesday, 9 August 2005 1:21 PM
Post Comment | Permalink
PENDIDIKAN BERMANHAJKAN AL QURAN
Topic: 4. TARBIYYAH DI RUMAH
Nilai Kepada Ibu Bapa

Anak-anak merupakan anugerah serta rezeki kurniaan Allah kepada pasangan suami isteri yang secara fitrahnya berhajat dan sentiasa mengharapkan kurniaan ini. Fitrah ini wujud dikalangan muslim mahupun bukan muslim. Walaupun begitu, ibu bapa muslim sangat di tuntut untuk mengetahui dan memahami nilai kurniaan ilahi ini (anak anak) kerana ketidakfahaman dalam perkara ini akan menyebabkan ibu bapa tidak dapat melaksanakan peranan dan tangungjawab ke atas anak-anak malah mungkin mereka tidak memberikan hak-hak asas anak, misalnya kasih sayang dan perhatian yang sewajarnya.

Menurut Akhlaq Hussain "anak-anak yang soleh menjadi sumber ibu-bapa mendapatkan ganjaran di dunia dan di akhirat."

Oleh yang demikian pendidikan anak-anak supaya menjadi muslim soleh adalah satu tanggungjawab deeniyyah, tetapi kegagalan dalam mendidik mereka juga akan membawa akibat yang berat di akhirat, sepertimana yang terdapat di dalam Al-Quran:

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan"( Surah at Tahrim : 6 )

Anak-Anak Adalah Generasi Pewaris Da'wah Kita.

Disamping anak-anak perlu dididik dan dibentuk menjadi anak-anak yang soleh, anak-anak juga perlu di proses dengan rapi supaya mereka bersedia untuk memikul tanggungjawab dakwah dan jihad. Anak anak kita adalah pewaris perjuangan yang sedang kita laksanakan hari ini dan mereka di pertanggungjawabkan untuk meneruskan perjuangn suci ini dengan lebih berkesan kerana kesedaran yang telah ada di dalam hati kita. Di atas hajat ini juga Allah menyebutkan doa nabi Zakaria :

"Dan sesungguhnya aku khuatir terhadap mawaliku sepeniggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Yaakub dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku seorang yang diredhai"
( Surah Maryam : 5-6 )

Oleh itu perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri adakah kita peka atau prihatin dengan tanggungjawab pendidikan anak-anak kita? Jika kita peka, adakah kepekaan ini telah membuahkan perancangan untuk melaksanakan pendidikan yang berkesan? Persiapan apakah yang telah kita buat ke atas diri kita bagi melaksanakan tuntutan yang sangat besar ini, iaitu mendidik anak-anak kita?

Sistem Pendidikan Yang Sedang Berjalan.

Kita sudahpun maklumi bahawa sistem yang berjalan, yang menguasai kehidupan kita adalah sistem bukan Islam. Sistem ini telah lama di ambil untuk menggantikan Islam sebagai sistem hidup. Sistem ini menguasai segala aspek kehidupan kita dan meninggalkan kesan yang mendalam ke atas jiwa dan syakhsiah kita. Sistem yang tiada sebarang hubungkaitnya dengan aqidah dan keimanan kita. Sistem ini terlalu asing bagi kita kerana ia tidak tumbuh seperti aqidah Islam. Oleh itu sistem pendidikan yang dibangunkan dari sistem ini sudah pasti bukan sistem pendidikan yang boleh menyampaikan kita kepada matlamat Islam. Walaupun Islam di ajarkan sebagai sebahagian dari sistem pendidikan ini tetapi untuk menghasilkan natijah yang dikehendaki oleh sistem ini bukan natijah sistem Islam. Sekiranya anak-anak kita hanya menerima pendidikan mereka dari sistem ini semata mata ataupun dilengkapi atau disempurnakan dengan ajaran-ajaran Islam sudah boleh ditentukan bahawa anak-anak ini tidak mungkin dapat menjadi muslim yag sebenarnya dan tidak akan mampu (mungkin tidak mahu) untuk memikul tanggungjawab dakwah. Banyak unsur-unsur yang terdapat di dalam sistem pendidikan sekular ini bukan sekadar tidak dapat membentuk keimanan mereka dan menyuburkannya sebaliknya unsur-unsur ini akan memudharatkan keimanan mereka, apa yang di ajar banyak menimbulkan keraguan bukannya keyakinan di dalam hati anak-anak kita yang akan menjadikan mereka muslim yang keliru ataupun yang paling baik natijahnya ialah muslim yang tidak memahami serta menghayati Islam dalam bentuknya yang asli,yang syamil dan kamil serta mutawazzin.

Perlu diingatkan disini kita bukan sekadar membicarakan sistem pendidikan yang formal di sekolah-sekolah sahaja, tetapi kita lebih perlu peka kepada sistem pendidikan yang sedang menguasai anak-anak kita. Ianya adalah persoalan yang berkait dengan sistem kehidupan itu sendiri iaitu pendidikan di rumah, di tadika, di sekolah, di universiti dan di semua tempat pendidikan yang dijalankan.

Hakikat Dan Sifat Deen Islam.

Sebelum kita membicarakan dengan lebih lanjut tentang pendidikan Islam yang merupakan pendidikan yang hakiki ,adalah lebih wajar untuk kita lebih memahami hakikat dan sifat deen ini. Islam adalah ciptaan Allah swt dan didatangkan dari Allah SWT kepada hambanya melalui Rasullullah SAW . Islam diturunkan dengan lengkap dan sempurna dan telah direalisasikan kesempurnaannya serta dihayati oleh Rasullullah dan generasi yang pertama, samaada penghayatan di dalam kehidupan individu mahupum kehidupan berjemaah.

Sekiranya kesempurnaan Islam dan hakikat menyeluruhnya diyakini tanpa sebarang ragu-ragu dan was-was ,maka dimanakah ruang untuk sesiapa menokok tambah atau mengurangkan walaupun satu juzuk dariada deen Allah ini? Oleh itu apakah logiknya masyarakat Islam muttakhir ini meminjam berbagai sistem utuk kehidupannya. Lebih-lebih lagi sistem pendidikan yang merpakan acuan generasi yang akan datang sedangkan dalam sistem pendidikan yang terbukti mampu menghasilkan natijah yang dihajati.


Pendidikan Islam : Penjelamaan Kesempurnaan dan Penyeluruhan Deen Islam.

Pendidikan Islam yang bercorak masyarakat bukanlah sistem pendidikan yang berasakan sesuatu yang asing daripada Islam. yang diimport dari barat, yang telah disempurnakan dengan memasukkan beberapa unsur Islam ke dalamnya (kerana sebagi contohnya sistem yang ada ini ketandusan aspek-aspek rohani mahupun akhlak)

Suatu sistem pendidikan itu hanya dapat di anggap sebagai sistem pendidikan islam apabila segala prinsip, kepercayaan, serta kandunganya berasaskan sistem Islam. Pendidikan Islam yang terdapat di dalam Al quran adalah pendidikan yang menyeluruh." Yang tidak terbatas kepada masjid atau institusi pendidikan sahaja,tidak terbatas kepada ibadat dan melupakan tingkahlaku atau memberatkan individu dan melupakan amal tetapi meliputi segala aspek manusia dan bergerak dalam segala bidang kehidupan.

Pengertian Dan Matlamat Pendidikan Islam.

Matlamat pendidikan Islam yang utama ialah untuk membawa manusia mengenali Rabb nya seperti yang dinyatakan oleh Allah SWT di dalam AL Quran dan diajarkan oleh Rasullullah sehingga melahirkan Pengabdian sepenuhnya hanyasanya kepada Allah semata mata ,melaksanakan segala yang diperintahkan dan berusaha mencegah dan meninggalkan segala yang dilarang dengan penuh redha.

Dasar Pendidikan Islam
Al-Quran adalah asas pendidikan Islam dan teras sistem pendidikan anak-anak ini adalah hakikat Tauhid Allah di dalam jiwa anak-anak. Di dalam al quran dan sunah Rasullullah terdapat metodologi untuk mendidik manusia dan telah terbukti keberkesanan metodologi itu di dalam kehidupan generasi awal. Ini adalah kerana jiwa manusia itu umpama satu peti yang berkunci rapat. Memahami jiwa ini adalah rahsia kejayaan mendidik manusia kerana pendidikan yang berbicara membawa perubahan yang menyeluruh dalam dirinya adalah pendidikan yang berbicara dengan jiwa ini. Hanya pendidikan Islam sahaja mempunyai metodologi yang terdapat di dalam Al quran yang mampu merawat jiwa ini.

Aspek Aspek Pendidikan Berasaskan Al Quran.
Pendidikan Islam bolen dibahagikan kepada beberapa aspek yang merangkumi seluruh fakulti hidup manusia.Aspek aspek tersebut antaranya ialah :

a) pendidikan keimanan.
b) pendidikan akhlak.
c) pendidikan aqal
d) pendidikan rohani.
e) pendidikan jasmani.


Metodologi pendidikan al quran pula merangkumi:

a) metodologi fitrah
b) metodologi ilmu
c) metodologi pemikiran
d) metodologi akhlak
e) metodologi ibadah
f) metodologi dakwah dan pendakwah.

Ibnu Khaldun telah mengingatkan kita bahawa di dalam al quran itu terdapat asas asas semua pengajaran pada segala dasar pendidikan di rantau negara negara islam ,kerana ia adalah syiar deen yang membawa kepada ketetapan aqidah dan kemantapan iman.

Pendidikan Keimanan Sebagai Asas Pendidikan Anak-Anak.

Pendidikan keimanan bermaksud "memperkenalkan anak-anak sejak dari ianya beraqal dengan unsur unsur keimanan ,membiasakannya dengan Rukun-rukun Islam serta mendidiknya Prinsip prinsip syarat yang mulia sejak dari usia tamyiz lagi".

Apa yang dimaksudkan dengan unsur-unsur keimanan ialah semua yang telah sabit kebenarannya daripada berita-berita dan hakikat-hakikat keimanan dan perkara perkara yang ghaib seperti beriman kepada Allah, Malaikatnya, kitab-kitabnya yang telah diturunkan daripada langit, beriman dengan para rasul dan dengan semua rukun-rukun iman yang lain.

Alam Sebagai Kitab Terbuka

Oleh yang demikian pendidikan anak-anak di peringkat paling awal ialah untuk membina serta mengukuhkan keimanannya. Ini dapat dilakukan dengan mendekatkan anak-anak dengan alam yang terbentang luas yang merupakan Kitab yang terbuka untuk kita mengenalkan anak anak kita kepada penciptanya. Pendekatan ini bukanlah satu pendekatan yang baru kerana sekiranya kita membuka dan mengkaji Al quran terutama sekali surah surah makiyyah kita akan dapati bahawa Allah Swt telah memperkenalkan Dirinya dengan mengalihkan pandangan manusia dari memandang kepada kehidupan ini dengan hati yang kosong, kepada memandang alam sekelilingnya dengan penuh kekaguman sehingga membuahkan penyerahan dan pengabdian yang total kepada Allah Rabbul alamin.

Kita pada hari ni bukan sahaja dapat mendedahkan anak-anak kita kepada yang ada disekeliling mereka ,tetapi dengan bantuan alat-alat audio visual yang canggih kita dapat mempamerkan kepada mereka kehebatan kuasa Allah sebagai Pencipta Pentadbir dan Penguasa alam ini.

Oleh itu apa yang perlu adalah perancangan kreatif kita untuk meransang setiap falkuti anak-anak kita dalam menanamkan hakikat Tauhid tanpa menjemukan mereka di dalam proses pendidikan mereka.terutama sekali pendidikan keimanan.

Masalah Perlaksanaan Pendidikan Jangka Pendek.

Permasalahan anak-anak telah memasuki satu fasa yang baru apabila ibu bapa di dalam keghairahan menyediakan anak-anak untuk memasuki alam pendidikan telah terperangkap di dalam pendekatan yang dianggap Islamik tetapi pada pandangan syara? tidak memenuhi sepenuhnya hakikat pendidikan Islam.

Pada akhir-akhir ini kita banyak ibu bapa mahupun institusi pendidikan anak-anak mendidik anak-anak dengan mengasaskan pendekatan yang diilhamkan di dunia barat. Walaupun sebahagian dari pendekatan ini telah diubahsuaikan di mana yang perlu, tetapi pada dasarnya pendekatan ini tetap bukannya sistem Islam. Sekiranya kita menganalisa sistem-sistem pendidikan ini kita akan sampai ke satu kesimpulan bahawa seluruh sistem pendidikan ini tiada hubungkaitnya dengan hakikat Rabbaniyyah . Sistem-sistem ini dari falsafahnya, objektifnya mahupun natijahnya yang diharapkan adalah sangat berbeza dengan hakikat pendidikan pendidikan di dalam tasawwur Islam. Sistem pendidikan dari barat ini mungkin mampu untuk menghasilkan anak-anak yang pintar cerdas dam merealisasikan potensi aqli dan jasmani mereka dan ini sememangnya matlamat pendidikan mereka. Walaupun penekanan moral diberikan ruang di dalam sistem ini tetapi sistem moral bukan Islam sudah pasti tidak mampu menghasilkan sistem moral Islam. Walaupun kita berusaha menempelkan kekurangannya dengan menggabungkan unsur-unsur Islam di dalamnya.

Ulama' Iqbal pernah mencatatkan bahawa sistem pendidikan barat mampu membawa anak-anak kita mengagumi dan mempelajari kemajuan dan teknologi ,tetapi ia tidak mampu untuk mendidik hati merka supaya takut hanya kepada Penciptanya.

Disana terdapat satu jurang perbezaan yang besar diantara mengambil atau meniru kaedah pengajaran dan pembelajaran dengan mengambil pendekatan tokoh tokonh dari barat dengan mengambil istem pendidikannya. Saya berpendapat bahawa untuk kita memanfaatkan kajian-kajian yang telah dijalankan oleh sesiapapun mengenai kaedah-kaedah pendidikan atau teknik-teknik menguasai sesuatu kemahiran yang berkesan merupakan satu yang sangat baik. Ini berdasarkan Hadis Rasulullah SAW :

(bermaksud ) "Hikmah itu barang mukmin yang tercicir,barang siapa yang menjumpainya maka dialah yang berhak ke atasnya."

Oleh itu kajian-kajian mereka ini boleh dan sewajarnya kita manfaatkan terutama sekali di dalam bidang kemahiran seperti membaca, menulis, mengira dan sebagainya. Begitu juga di dalam kajian mereka mengenai teknik berfikir dan pembangunan jasmani. Apa yan dibimbangkan ialah kita mengambil keseluruhan sistem pendidikan yang mereka kemukakan kerana ini adalah suatu yang merosakkan. Ini adalah kerana matlamat dan falsafah pendidikan mereka tidak berasaskan tauhid dan keimanan. Ini hanya yang menghasilkan anak-anak yang pintar tetapi jiwa mereka tetap kosong, yang lebih membimbangkan ialah lahir nya tasawur yang terpisah diantara aspek kerohanian dan moral dengan aspek-aspek pendidikan yang lain. Pendekatan golongan Muslim yang ikhlas yang berpegang kepada sistem barat tetapi mereka menyedari kekurangan sistem ini dan cuba untuk memperbaiki keadaan ini dengan memasukkan unsur-unsur Islam juga tidak banyak membantu malah akan lebih mengelirukan masyarakat Islam. Langkah langkah ini tidak jauh bezanya dengan pendekatan pendidikan sekular hari ini.

Cabaran Dan Permasalahan Dalam Pendidikan Anak Anak.

Perlu disedari bahawa di sana terdapat satu jurang yang sangat jauh diantara memahami ilmu realiti yang ada hari ini dengan peringkat perlaksanaan tersebut. Asy-Syahid Imam Hassan Al Banna telah menggariskan bahawa keberkesanan pendidikan Islam bergantung kepada tiga faktor iaitu :-

a) manhaj yang sahih.
b) murabbi yang berkemampuan.
c) suasana persekitaran yang soleh.

Perlaksanaan pendidikan anak-anak secara individu dirumah ataupun sebagai suatu institusi menghadapi pelbagai cabaran . Di antaranya ialah:

Masalah yang paling utama ialah masalah menyediakan satu manhaj pendidikan yang sesuai mengikut peringkat umur anak-anak dan menyediakan modul-modul pendidikan yang praktikal yang dibangunkan berasaskan sumber-sumber rujukkan yang muktabar. Walaupun pada masa ini Al- Quran masih ditangan kita ,begitu juga dengan hadis-hadis Rasullullah SAW serta kajian para ulama', kita masih perlu menyusun segala objektif ,kandungan pendidikan serta cara atau pendekatan perlaksanaanya. Objektif serta kandungan pendidikan ini bukanlah masalah yang sangat besar,tetapi saya merasakan bahawa apa yang lebih sukar ialah menyediakan modul-modul perlaksanaan pendidikan yang bersepadu terdapat di dalamnya

a)Pendidikan hati anak anak dengan hakikat Tauhid serta rukun rukun keimanan
b)Pendidikan ubudiyyah dan peribadatan
c)Pendidikan Akhlak
d)Pendidikan sirah Rasulullah
e)Pendidikan AL Quran (bukan setakat membaca, tetapi pendidikan yang membuahkan kecintaan kepada Al Quran dan meyakininya)
f)dan aspek pendidikan yang lain

Ini masih agak sukar ketika anak anak itu masih muda dan mereka mudah bosan.

Pelaksanaan pendidikan Islam juga menghadapi cabaran yang tidak kurang besar iaitu ketiadaan suasana dan contoh teladan yang boleh menyuburkan proses pendidikan tersebut. Ini adalah kerana para ibu bapa sendiri tidak pernah melalui proses pendidikan Islam yang sebenarnya dengan berkesan. Oleh itu ibubapa sewajarnya lebih serius untuk melalui tarbiyyah diri supaya pendidikan yang paling berkesan kepada anak-anak ,iaitu qudwah hasanah yang hidup dapat berjalan setiap masa dalam kehidupan anak-anak kita.


Posted by koleksi05 at 8:22 PM
Updated: Friday, 8 July 2005 8:38 PM
Post Comment | Permalink

Newer | Latest | Older